Si "BOROKOKOK" Meninggal Dunia

Berita meninggalnya Ida Kusumah (71) ditanggapi beragam oleh para penggemar "sinetron tanpa ujung" Cinta Fitri. Mereka umumnya mengaku bersedih karena tokoh Oma yang diperankan Ida sungguh bisa mewakili emosinya saat menonton sinetron itu.

"Tanpa Oma Ida, pasti enggak serulah Cinta Fitri," kata Ema, ibu dua anak yang rajin menonton Cinta Fitri itu. Soalnya, dia menambahkan, tanpa kehadiran Oma, tak akan ada lagi berbagai ungkapan khas Sunda yang bikin orang tertawa-tawa puas, seperti borokokok dan balakaciprut.

"Dan enggak ada lagi yang bakal nggamparin Mischa yang super-pikaseubeuleun pisan tea,"  komentarnya atas kepergian Ida Kusumah untuk selama-lamanya.

Menurut penggemar berat Cinta Fitri itu, tidak akan ada lagi pemain lain yang bisa menggantikan peran Ida di sinetron yang banyak dinilai membodohi masyarakat tetapi tetap diikuti terus, bahkan oleh orang yang merasa dibodohi itu.

"Soalnya tokoh Oma sudah melekat bertahun-tahun. Jadi jangan diganti. Tokoh Oma diudahin saja," lanjutnya.

Yanti, penggemar lain Cinta Fitri, juga setali tiga uang. Menurut dia, "Si Oma teh yang paling gigih membela Fitri. Soalnya yang lain perannya rada plinplan," katanya.

Ia kemudian menilai satu per satu tokoh dalam sinetron itu. Si maminya, papinya, bahkan si Farrel-nya (suami Fitri), menurut Yanti, ya begitu-begitu saja. Beda dengan Oma yang mampu mewakili emosi penonton.

Kesimpulannya, kata dia, akan ada peran yang hilang, yakni peran si pembela Fitri, yang superjutek ke si Mischa. "Sehingga bakal enggak seru lagi bila tidak ada yang menggantikan peran si Oma sebagai pembela Fitri," katanya.


REKAM JEJAK
Rekam jejak aktingnya diawali ketika ia tampil dalam film Putri Revolusi arahan sutradara Ali Yugo, yang dibuat pada tahun 1955. Dalam film tersebut, Ida berdampingan dengan aktor terkenal Sukarno M Noor, yang juga ayah dari aktor Rano Karno.

Namun, kemujuran belum berpihak kepadanya. Karier di dunia aktingnya tak terlalu mulus. Perempuan kelahiran Jakarta, 31 Agustus 1939, ini pun beralih ke bidang tarik suara dan peragawati. Tahun 1960, ia dinobatkan sebagai Putri Peragawati I dan Ratu Jakarta III.

Pada tahun 1960-an, ia juga aktif sebagai penyanyi dan penari yang bertugas untuk menghibur para prajurit, baik dalam operasi Trikora, Dwikora, maupun ketika penumpasan G30S/PKI.

Pada tahun 1961, ia kembali bermain film dan mendapat peran utama dalam film Malam Tak Berembun bersama aktor AN Alcaff dan disutradarai oleh AW Sardjono. Ida bermain kembali dalam film Menjusuri Djejak Berdarah pada tahun 1967.

Sampai tahun 2007, Ida tercatat telah bermain dalam 62 film. Mulai tahun 1994, ketika dunia sinetron tumbuh menjamur, ia pun ikut terjun di dalamnya.

Ia mungkin satu di antara artis film Indonesia yang tetap setia dan konsisten terhadap dunia seni peran. Berkarier sejak 1955, perempuan yang identik dengan ucapan “what happen aya naon” itu tetap semangat berkarier tanpa rasa jenuh.

Atas kesetiaannya pada dunia perfilman, pada tahun 1996, ia menerima penghargaan Kesetiaan Profesi dari Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N).

Pada tahun 2008, SCTV memberikan penghargaan Life Time Achievement kepada Ida Kusumah karena ia memiliki dedikasi tinggi di bidangnya.

Ia merasa bersyukur atas penerimaan masyarakat dan industri perfilman, sinetron, dan juga iklan ketika generasi berganti dan regenerasi terus terjadi.

Ida pun membintangi sejumlah sinetron pun hingga saat ini. Dalam berakting ia sering mendapatkan peran antagonis, sebagai ibu yang judes, dan bahkan jahat.

Sahabat dekat aktris Nani Wijaya dan Connie Sutedja ini menyelesaikan film bioskop berjudul CintaPuccino tahun 2007. Film Bebek Belur (2010) menjadi film layar lebar terakhir yang dia bintangi.

Kesetiaannya pada dunia seni peran telah ia buktikan. Ida mengembuskan napas terakhirnya saat menjalankan proses shooting untuk sinetron Cinta Fitri pada Kamis (25/11/2010) malam. Ida yang dalam film tersebut berperan sebagai tokoh Oma yang doyan mengumpat 'si borokokok' itu wafat pada usia 71 tahun.

Selamat jalan Oma...

Jejak Karier Ida Kusumah
Nama : Siti Endeh Ida Hendarsih Atmadi Kusumah

* Penghargaan :
Putri Peragawati I (1960),
Ratu Jakarta III (1960),
Kesetiaan Profesi dari BP2N (1996),
Life Time Achievement Awards dari SCTV (2008)

* Filmografi :
Puteri Revolusi (1955),
Malam Tak Berembun (1961),
Menjusuri Djedjak Berdarah (1967),
Bila Cinta Bersemi (1972),
Buah Bibir (1972),
Ratu Ular (1972),
Ratu Amplop (1974),
Laila Majenun (1975),
Duo Kribo (1977),
Yuli Buah Hati Kekasih Mama (1977),
Kabut Sutra Ungu (1979),
Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa (1979),
Sang Guru (1981),
Hidung Belang Kena Batunya (1982),
Sorga Dunia di Pintu Neraka (1983),
Akibat Buah Terlarang (1984),
Pelangi di Balik Awan (1984),
Gejolak Cinta Pertama (1985),
Opera Jakarta (1986),
Pernikahan Berdarah (1987),
Catatan Si Boy II (1988),
Jodoh Boleh Diatur (1988),
Kamus Cinta Sang Primadona (1988),
Cinta Yang Terjual (1989),
Catatan Si Boy III (1989),
Catatan Si Boy IV (1989),
Godain Kita Dong (1989)
Kemesraan (1989),
Makelar Kodok (1989),
Si Kabayan dan Gadis Kota (1989),
Valentine Kasih Sayang Bagimu (1989),
Boleh-Boleh Aja (1990),
Boneka Dari Indiana (1990),
Boss Carmad (1990),
Cinta Anak Muda (1990),
Curi-Curi Kesempatan (1990),
Dorce Ketemu Jodoh (1990),
Gonta Ganti (1990),
Isabella (1990),
Jangan Bilang Siapa-Siapa (1990),
Makelar Kodok Untung Besar (1990),
Oom Pasikom (1990),
Pengantin (1990),
Ricky (1990),
Sang Pembela (1990),
Sepondok Dua Cinta (1990),
Olga dan Sepatu Roda (1991),
Sekretaris (1991),
Taksi Juga (1991),
Zig Zag (1991),
Si Kabayan Saba Metropolitan (1992),
Gadis Malam (1993),
Setetes Noda Manis (1994),
Cintapuccino (2007),
Bebek Belur (2010)

* Sinetron :
Saling Silang (1994),
Madun (1995),
Mak Comblang (1996),
Pelangi di Rumah Susun (1997),
Olga dan Sepatu Roda (1997),
Cinta Fitri (2007),
Cinta Fitri 2 (2008).

Sumber