Sektor Tambang Bakal Sumbang Rp 16,5 Triliun di 2011

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penerimaan negara dari sektor pertambangan pada tahun 2011 naik 26,9% atau sekitar Rp 16,5 triliun. Selain itu sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan masih akan tumbuh positif di kisaran 3,2%-3,7%.



Kepala Biro Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Irwan Lubis mengatakan sektor pertambangan merupakan sektor andalan
yang menyediakan sumber energi, bahan baku industri, dan sumber penerimaan negara
"Penerimaan negara dari sektor pertambangan pada tahun 2011 diperkirakan naik menjadi sekitar Rp 16,5 triliun atau naik sekitar 26,9% seiring dengan potensi sumber daya mineral yang ada di Indonesia," ujar Irwan di sela seminar mining dan energi 2011 di Ritz Carlton Pacific Place, Sudirman, Jakarta, Rabu (22/12/2010).

Ia mengatakan Pada tahun 2010, sektor pertambangan dan penggalian diperkirakan tumbuh sebesar 3,4% (yoy) dan di tahun 2011 pertumbuhan sektor ini diperkirakan di kisaran 3,2-3,7% (yoy).

Pertumbuhan yang positif tersebut, lanjut Irwan terutama didukung oleh kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan-cadangan mineral yang baru, terutama nikel, emas, bauksit, dan batubara.

Selain itu Irwan memaparkan, kontribusi perbankan melalui pemberian kredit ke industri perbankan terus menunjukkan perkembangan yang baik.

"Sampai Oktober 2010, kredit ke sektor pertambangan tumbuh sekitar 23,85% dan mencapai Rp 53,12 triliun. Pertumbuhan kredit ke sektor pertambangan lebih tinggi dibanding pertumbuhan kredit industri perbankan yaitu sebesar 16,53%," terangnya.

Walaupun kredit sektor pertambangan tetap tumbuh, Irwan mengatakan Rasio Kredit Bermasalah (NPL) kredit pertambangan masih relatif rendah yaitu sebesar 2,14%. Selain itu perbankan masih fokus menyalurkan kreditnya ke minyak bumi dan gas.

"NPL masih rendah yakni per Oktober 2010 mencapai 2,14%. Sementara itu dilihat dari komposisinya, kredit pertambangan lebih banyak disalurkan ke minyak dan gas bumi yang mencapai 65% dari total kredit pertambangan," paparnya.

Pada dasarnya pertumbuhan kredit di sektor pertambangan, menurut Irwan masih cenderung belum cukup besar dibandingkan dengan kredit perbankan di sektor jasa usaha. Hal ini menurut Irwan dikarenakan beberapa faktor yakni masih kurangnya pemahaman beberapa bank terhadap peluang, prospek usaha dan risiko pembiayaan sektor pertambangan.

"Selain itu jangka waktu kontrak yang menjadi underlying kredit lebih pendek dibandingkan jangka waktu kredit sehingga menimbulkan risiko bagi perbankan. Serta pembiayaan pada sektor pertambangan adalah investasi jangka panjang, sementara dana perbankan pada umumnya berjangka pendek (potensi mismatch liquidity)," papar Irwan.Sumber