Kian hari, jumlah warnet di Batu Kajang semakin bertambah. Ini sebenarnya merupakan fenomena yang sangat membahayakan. Jika keadaan seperti ini terus berjalan, tidak menutup kemungkinan akan terjadi bangkrutnya warnet-warnet di Batu Kajang. Pengguna, penggemar dan penggila internet,yang jumlahnya masih sangat minim di Batu Kajang,
pasti akan menjadi kendala besar saat bermunculan warnet-warnet baru. Warnet akan saling berebut konsumen, yang dapat memicu persaingan bisnis yang ekstrim.
Siapa yang paling dirugikan ? Sebenarnya semua akan sama-sama merugi. Bagi pendatang baru, pasti modal belum balik, dan harus memeras otak mencari inovasi untuk merebut dan mempertahankan pasar. Sementara bagi warnet-warnet yang sudah lama berdiri, pasti juga akan kalah saing karena pendatang baru pasti akan tampil dengan wajah yang lebih menawan.
Meski tarif dasar telah disepakati oleh semua pemilik warnet di Batu Kajang, namaun sepertinya persaingan yang akan terjadi tidak mengacu pada tarif. Persaingan akan merambah pada kwalitas dan kenyamanan terhadap pelayanan konsumen. Padahal untuk meghadirkan kenyamanan tersebut, diperlukan biaya yang tidak sedikit. Dapat anda bayangkan saat warnet A menggunakan AC sebagai pendingin ruangan, sementara warnet B hanya memakai kipas angin, dan memasang tarif yang sama. Mungkinkah warnet B mampu menjawab tantangan pasar ? Jika warnet A terletak di area yang strategis, sementara warnet B ada di pinggiran, dan lagi-lagi memasang tarif yang sama, mungkinkah warnet B akan didatangi orang ?
Padahal jika kita kaji, mendirikan sebuah warnet itu memerlukan modal yang lumayan besar. Untuk memiliki 10 unit client saja, mungkin diperlukan dana sekitar 60-70 juta ( telah kami uraikan di halaman terdahulu). Belum lagi ditambah pengeluaran bulanan yang tidak murah, membuat sang pemilik warnet harus ekstra hati-hati dalam menjalankan bisnis yang satu ini.
Mudah-mudahan coretan kecil ini dapat menjadi acuan ketika di benak anda terbersit ingin memiliki sebuah warnet.
