Surat Cinta Untuk MEDICO

Bagi rekan-rekan yang berada di lingkup wilayah pertambangan PT. Kideco, mungkin tak asing lagi dengan majalah kebanggaannya; MEDICO. Sebuah majalah yang dikemas secara apik dan elegan, memang pantas untuk diselipkan di antara map warna ungu dalam tas laptop anda. Artikel yang disuguhkan pun terkesan merakyat dan mudah

difahami oleh segenap kalangan, anak-anak sekalipun. Bahkan ada sebuah kisah, anak seorang karyawan yang selalu menanyakan edisi terbaru majalah tersebut kepada sang ayah.
Namun dibalik tampilannya yang mewah dan elegan, majalah MEDICO terkesan kehilangan kebebasan pers nya. Terbukti, semua isi yang dimuat adalah hal-hal yang terkesan “memaksakan diri” untuk mengharumkan nama sang empunya. Tak heran jika kita hanya akan menemukan berita-berita ringan yang kurang mengaplikasikan keadaan yang sebenarnya. Padahal di antara kita mungkin ada yang rindu dengan keterbukaan wawasan alamiah di sekitar kita.
Sebagai media pengantar aspirasi, mestinya MEDICO mampu dan berkemauan untuk memuat hal-hal yang dianggap kontroversi. Tidak selamanya kita akan puas jika dimanjakan dengan hal-hal yang sebenarnya meracuni nurani. Tidak selamanya kita bangga dengan sajian yang bertema “setuju” dan “amin”. Ada kalanya kita merindukan sebuah geliat kekokohan yang mampu mendobrak kesenjangan. Cambuk kecil yang terlihat penuh duri, kadang kita rindukan untuk menelaah diri kita. Kecaman, hujatan dan cacian, kadang kita perlukan untuk bangkit dari keterpurukan.
Tak hanya “Sumbangan Hewan Qurban”, ” Kunjungan Petinggi PT.Kideco ke Desa Antah Brantah”, atau tema-tema lain yang hanya akan membuat kita mati suri dalam menelaah kenyataan. Tapi mestinya diimbangi dengan “Tragedi Kecelakaan Tambang”, “Antara Golok Dan Pembebasan Tanam Tumbuh”, atau judul-judul lain yang dapat memompa adrenalin pemirsa setianya.