Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu. Itulah salah satu bunyi peribahasa yang pernah kudapatkan semasa SD dulu. Rupanya pelajaran tadi sangat berkesan bagi temanku. Filosofi kura-kura ini dijadikan sebagai prinsip dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Benarkah untuk selamat dalam hidup harus berpura-pura?
Pertanyaan di atas sangat mengganggu pikiranku, kalau memang pandai, kenapa harus berpura-pura bodoh ? Benarkah ia pandai ? Atau memang sebenarnya ia bodoh tetapi tidak mau dianggap bodoh ? Kalau memang ia tahu tentang sesuatu, kenapa ia pura-pura tidak tahu. Benarkah ia tahu bneran ? Atau sebenarnya ia tidak tahu, tetapi gengsi jikalau dianggap tidak tahu ?
Tetapi hidup memang sebuah pilihan, dan satiap orang berhak atas pilihannya. Karenanya akan ada sekian jumlah varian yang akan kita hadapai dalam bergaul dalam masyarakat. Ceritanya begini, bertepatan dengan hari Kamis, tanggal 7 Mei 2009, temanku, saudaraku, sahabatku, kakakku, seniorku berpamitan setelah dinobatkan memanggku jabatan baru sebagai Kepala Sekolah di sebuah SMP. Temanku tadi berlatar belakang seorang guru SD. Dalam meniti karirnya, temanku tadi sering membuat sensasi dalam kerjanya. Nah yang tersebut terakhir tadi merupakan sensasi terbesar yang tercatat dalam dunia pendidikan di Kabupaten Purbalingga.
Beberapa rekaman yang dapat kusebutkan, sejak masih SMP dulu temanku tadi konon jadi siswa berprestasi. Memang ada kekhasan tersendiri ditubuhnya yang gempal dan berkepala sedikit botak. Menurut cerita kakakku, ketika sama-sama diterima di SPG Negeri Banjarnegara, di hari pertama saja, sudah banyak sekali siswa di sekolah tersebut yang sudah hafal menyebut namanya. Bahkan tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi sudah meluas sampai dengan lingkungan masayarakat di sekitar tempat kostnya. Temanku tadi kalu menggunekan istilah sekarang memiliki home realationship yang tinggi, pandai beradaptasi, pandai bergaul, bahkan dalam konteks tertentu pandai berpenampilan, sehingga tidak jarang yang tertipu dengan gayanya.
Benarkah hidupnya yang berkamuflase itu yang mengantarkannya sukses ? Rupanya benar juga. Tetapi sebenarnya bukan soal kamuflase, tetapi semangatnya untuk sukses yang begitu tinggi. Nah karenanya tidak jarang, informasi yang terdengar sering dimanipulasi oleh fihak-fihak yang tidak memilih cara meniti jalan sukses seperti apa yang dia jalani. Dari sisi pendidikan yang ditempuh saja tidak ada duanya. Seorang guru SD berhasil menyelsaikan program strata 1 pada 3 disiplin ilmu yang berbeda. Kini gelar ang disandangnya ada S.Pd. dari Prodi Pendidikan Sejarah, S.IP dari Jurusan Administrasi Negara UT, SE dari jurusan ekonomi, masih dari UT, dan kini sedang menyelsaikan tesisnya pada Manajemen Administrasi Publik Unsoed, sehingga gelar di belakang namanya bakal genap jadi empat setelah M.Si nya melekat. Luar Biasa!
Kalau kebetulan melihat tayangan iklan sekolah gratis di TV akhir-akhir ini, maka benar jikalau disebutkan bahwa anak supir angkot bias jadi pilot, anak loper Koran bias jadi wartawan, maka anak bakul tempepun bias menyandang apapun, dengan satu syarat disiplin, dan komitmen dalam mewujudkan impiannya. Sebagai sahabat, saya mengangkat topi dan hormat setinggi-tingginya, dan ingin rasanya mengusulkan sebagai salah satu tokoh yang benar-benar komit dngan pendidikan.
Kembali kepada kepura-puraan sesuai dngan pengakuannya tadi, rupanya merupakan salah satu kita sukses juga. Hal ini didorong oleh kingininan merebut simpati banyak fihak, karena sukses adalah bagimana kita “ngrogoh ati” siapapun yang bakal memberi kontribusi terhadap maksudnya tadi. Ketika baru menyandang S.IP, komentar yang muncul adalah “oh pantas saja sarjana politik”, pandai mempolitisir sesuatu. Ttapi ralitanya untuk sukses memang perlu strategi, dan dalam bahasanya perlu berpolitik. Benar juga ya! Pokoknya banyak yang bias diambil pelajaran darinya baik ang positif maupun sedikit sisi negatifnya. Apakah anda mengenal sosok yang dijelaskan di atas tadi ? silahkan berikan komentarnya sesuai dengan apa yang anda ketahui!
Dari :http://dwijawara.wordpress.com/
