JAKARTA - Pengamat pendidikan sekaligus ulama Noer Muhammad Iskandar merasa heran terkait pengucilan warga terhadap Siami, ibunda Alifah, siswa SDN 2 Gadel Tendes, Surabaya, yang melaporkan insiden nyontek massal saat ujian nasional, April lalu.
Sebab menurut Noer, peristiwa itu telah membuka tabir tentang punahnya pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kejujuran. "Mestinya orangtua yang melaporkan bukan malah dikucilkan. Peristiwa ini karena ketiadaan pendidikan tidak baik," ujar Noer kepada okezone, Jum'at (17/6/2011).
Peristiwa tersebut menunjukkan tentang perubahan karakter masyarakat Indonesa, di mana mereka lebih suka dengan pendidikan yang berbasiskan pada nilai. "Kalau masyarakat menghukum ibu Siami berarti mereka tidak senang dengan pendidikan kejujuran, tapi mereka lebih suka pada pendidikan angka," kata dia.
Menurut penilaian Noer, peristiwa ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya pendidikan moral sedini mungkin.
"Keteladanan itu sudah tidak ada, tugas ini bukan pada ulama tapi tugas masyarakat juga. Tujuan pendidikan itu bukan pada nilai angka yang ada dikertas tapi memperbaiki moral demi mendidik moral anak," imbuhnya.
Maka kata Noer, jalan keluar yang paling baik adalah pendidikan yang dibentuk oleh masyarakat sendiri melauli lingkungan yang kuat. "Memasukkan pendidikan agama atau moral bukanlah pokok solusi, saya rasa tidak sederhana itu, tapi yang lebih penting adalah membentuk masyarakat yang juga memiliki kepekaan terhadap pendidikan lingkungan yang dibangun oleh masyarakat sendiri," paparnya.
Kata Noer, apa yang menimpa Siami itu harus dijadikan bahan introspeksi bagi semua sebab saat ini minim teladan kejujuran. "Peristiwa itu memang harus disadari oleh kita semua karena kurangnya keteladanan dari kita sendiri," pungkasnya.
(ram)Sent from Indosat BlackBerry powered by