JAKARTA - Pengamat pendidikan Darmaningtyas, memaknai kecurangan massal di SDN II Gadel, Tandes, Surabaya pada saat Ujian Nasional (UN) April lalu sebagai gambaran bahwa UN bersifat politis.
"UN lebih bersifat politis daripada akademis, karena itu ada manipulasi," kata Darmaningtyas di Jakarta, Kamis (16/6/2011).
Fenomena ini pun menurut dia bukan hal yang baru. Dia yakin, kondisi serupa terjadi di sebagian besar sekolah di Indonesia. Siami, hanyalah satu di antara sekian banyak orangtua yang berani menyuarakan kejujuran.
Karena itu, dia menilai selama UN tetap diberlakukan sebagai satu-satunya alat penentu kelulusan seorang siswa, maka Alif-Alif dan Siami-Siami berikutnya akan terus bermunculan.
Hal ini dikarenakan sistem evaluasi pendidikan yang hanya mengandalkan UN, terus menjadi beban tersendiri bagi banyak pihak.
"Selama UN menjadi penentu kelulusan ya akan tetap seperti ini, pendidik punya beban sendiri untuk menyelamatkan sekolahnya, Kepala Dinas punya beban sendiri untuk sukses meski tidak tahu bagaimana prosesnya," ungkapnya.
(ded)Sent from Indosat BlackBerry powered by